[Disturbing Video] Buddhist Family Beheaded in Narathiwat


More than than 4000 people killed in 7 years by Muslims extremists in south of Thailand killing police, military, teachers, monks and even peaceful family.

Just few lines in the news papers, almost nothing in Thai newspapers!

This video shows a whole family hanged or beheaded, including a 9 years old kid in Narathiwat district located a deep south Thailand.

Official Trailer The Amazing Spider-Man 2 is Released

Pihak Sony Pictures telah merilis trailer resmi The Amazing Spider-Man 2.

The Amazing Spider-Man 2 May 2, 2014


Di film ini Andrew Garfield dan Emma Stone masih tetap beraksi. Di sekuel ini juga akan hadir 'musuh' baru Spider-Man, yaitu Electro yang diperankan oleh Jamie Fox, Dane DeHaan sebagai Harry Osborn, Paul Giamatti, Chris Cooper, Sally Field dan Denis Leary.

Film ini akan dirilis dibioskop-bioskop dunia pada tanggal 2 Mei 2014.


Katy Perry Menjadi Duta Unicef Lengkap dengan Video Unconditionally

Katy Perry telah menjadi Duta  Unicef terbaru.

Kunjungan pertamanya sebagai duta besar unicef berlangsung di Madagascar. Madagaskar merupakan salah satu negara termiskin di dunia yang berada di negara pulau tropis di Samudra Hindia, lepas pesisir timur Afrika.



Kunjungan ini menjadi inspirasi terbaru baik albumnya Prism krn melalui kegiatan barunya ini visi dan inspirasinya tentu bertambah.

Pada video ini Katy mengusung lagunya berjudul Unconditionally sebagai penggambaran cintanya pada tugas barunya bagi kemiskinan, kekerasan terhadap anak dan penolakan.

The Most Popular Video In India, Blue Eyes by Honey Singh

Blue Eyes Lyric by Honey Singh

Blue eyes hypnotize teri kardi ai mennu
I swear! chhoti dress mein bomb lagdi mennu
Glossy lips, uff yeh tricks
Baby lagdi ai killer
Oh yeah oh yeah
Katal kare tera bomb figure

Blue eyes, hypnotize teri kardi ai mennu
I swear ! chhoti dress mein bomb lagdi mennu
(bomb lagdi mennu, bomb lagdi mennu)
(mennu..)

Yo Yo Honey Singh


Meri aankhon mein dekha kar
Jab mein baat karta hun
Main woh londa nahi jo tere saath padta hun
White ghini laya hun
Tujhe pick kar lun
Dekh lunga aashiq or teri teacher nu
Leke chalu ride pe phir chhat kholke
Seedhi baat karu, na karu tolmol ke tonight
I gotta hold you tight
Aaj hogi late phone karke ghar pe bolde

Blue eyes, hypnotize teri kardi ai mennu
I swear ! choti dress mein bomb lagdi mainu
Glossy lips, uff yeh tricks
Baby lagdi ai killer
Oh yeah! oh yeah!
Katal kare tera bomb figure (figure..)

Ghar pe chalna hai yaa pehle jayegi club
Nahi, mera matlab, Ghar ke Club?
Tab lunga left, nahi to right!
Club mein hoga shor, baby ghar pe pillow fight
You decide ki kya karna hai
Tujhko to zara sa bhi dar na hai
Champagne ger di hai tune meri pant pe
Aur kehti hai change karlo hotel leke rent pe

Blue eyes, hypnotize teri kardi ai mennu
I swear! Choti dress mein bomb lagdi mainu
Glossy lips, uff yeh tricks
Baby lagdi ai killer
Oh yeah! Oh yeah!
Katal kare tera bomb figure

Suna tere college mein mere gaane ban hai
Padhne likhne ka tera na koi plan hai
Pass kara dun, phone ghuma dun
Principal bhi baby Yo Yo ki fan hai
Teri principal bhi baby Yo Yo ki fan hai
Kehndi Yo Yo Honey Singh!

Blue Eyes, hypnotize teri kardi ai mennu
I swear! Chhoti dress mein bomb lagdi mennu
Glossy lips, uff yeh tricks
Baby lagdi ai killer
Oh yeah! oh yeah!
Katal kare tera bomb figure

Blue Eyes, hypnotize teri kardi a mennu
I swear! Chhoti dress mein bomb lagdi mennu
Bomb lagdi mainu, bomb lagdi mainu...

Mafia Uang Pada Grup Media Pengakuan Eks Wartawan Tempo



 Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO.

Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.

“Jelas nggak nih acaranya?”

“Ada kejelasan nggak nih?”

“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”

Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’.

Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.

Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.

“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.

Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu.

Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.

Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh.

Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan.
    Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?

    Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?

    Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri?

    Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman.

    Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang di dalam grup TEMPO.

    Siapa bilang TEMPO bersih?

Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.

Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas.
    Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.

TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan.

Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang.

    Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?

    Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)?

    Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery?

    Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar.

    Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa?

Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan.

Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat.

Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti.

Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.

Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi.

Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO.

Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan.

Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit.

Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.

Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.

Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya.

“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya.

“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya.

“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya.

“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia.

“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.

“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.

“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.

“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia.

“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia.

Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain.

Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja.

Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan.

TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.

Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini.

Insya Allah jauh dari dunia hitam. (Jilbab Hitam, mantan wartawan Tempo/ KCM/Kompasiana)


Terungkap Fakta Demian Membuka Kedok Perselingkuhannya



Fakta perselingkuhan Demian mulai terungkap. Adanya wanita lain dalam kehidupan rumah tangga mereka ternyata terjawab oleh waktu dan disini akan tersaji beberap berita yang mendukung bukti-bukti ini :

Kedekatan Demian-Sara ramai menjadi perbincangan media. Melalui sang manajer, Boyke, Sara menyampaikan enggan diwawancarai seputar kedekatannya dengan Demian. “Kalau ditanya itu, Sara tidak mau,” ucap sang manajer.

September tahun lalu, lewat tabloid ini Sara sempat membantah gosip itu. “Aku tahu gosip ini dari manajer. Kali pertama dengar kaget banget, ada orang yang membuat berita bohong seperti itu,” ungkap cewek kelahiran Jakarta, 6 Mei 1979 ini.

“Kalau misalnya kami sering jalan lalu digosipkan, itu lebih masuk akal. Ini, kan jalan bareng saja enggak pernah, bertemu jarang, apalagi mengobrol. Kok ada kabar begitu,” kilah Sara.

Perkenalannya dengan si pesulap berawal ketika Sara dan Demian memiliki program acara di stasiun TV yang sama pertengahan tahun lalu. Demian membawakan program sulap, sedangkan Sara acara anak muda. Namun, perkenalan itu diakui Sara tidak membawa dirinya dan Demian ke hubungan istimewa. “Kami profesional, sebatas hubungan kerja saja,” Sara menukas.

Memang, sekali waktu Sara pernah bertemu Demian di luar kota. Itu pun kebetulan. Sara, yang diminta mengisi sebuah acara di Surabaya, mengetahui Demian ada di kota yang sama lewat status yang dipasang Demian di BBM. Sara dan Demian pun bertatap muka.
sumber : bintang 16 Juni 2012


Dan inilah pengakuan Demian soal Sara Wijayanto
 Jakarta - Magician Demian Aditya sudah tak malu-malu lagi beriksah soal kedekatannya dengan model Sara Wijayanto. Tapi apa yang bikin Demian kepincut dengan model yang kini jadi penyanyi itu?

"Semenjak ketemu lagi dan ngobrol ada sesuatu yang cuma saya yang tahu," kata Demian menyinggung kuatnya chemistry antara dirinya dan Sara, Selasa (19/11/2013).

Semenjak pertemuan itu, Demian mengaku sudah kadung nyaman dengan perempuan yang justru disebut-sebut sebagai penyebab perceraiannya dengan Yulia Rachman.

"Pada saat ketemu lagi itu nyaman saja, setiap ngomong kita satu visi," tutur Demian.

Meski mengaku dekat, Demian dan Sara tak menyebut hubungan mereka sebagai pacaran. Mereka juga membantah hubungan mereka sebagai alasan perceraian sang pesulap dengan Demian.

sumber : detik 20 Nopember 2013





Inilah Penyakit Ratu Atut Chosiyah : Oniomania


Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah memiliki kebiasaan berbelanja secara berlebihan. Banyak berita yang menerangkan perilaku belanjanya ini.

 

Kebiasaan belanja ini dikenal dengan Oniomania. Oniomania adalah istilah yang ditujukan untuk orang-orang yang punya kebiasaan belanja berlebihan, dalam jumlah maupun frekuensi.
Adapun penyebab penyakit ini adalah sebagai berikut ini:

1. Masa kecil yang tidak bahagia;
2. Tidak bisa menghadapi perasaan negatif, seperti marah, kecewa, dan patah hati;
3. Mencari pelampiasan dari kekosongan perasaan;
4. Selalu mencari kesenangan;
5. Selalu butuh pengakuan

Untuk mengenal jenis kebiasaan atau penyakit ini bisa dilihat dari jenis Oniomania itu sendiri, yaitu :
  1. Compulsive shoppers: belanja untuk mengalihkan perasaan tak enak. Mottonya, "When the going gets tough, the tough go shopping”;
  2. Trophy shoppers: membeli banyak barang aksesori untuk dipadankan dengan pakaian, terutama barang kenangan;
  3. Image shoppers: membeli barang-barang mewah untuk menunjukkan status, tak peduli keuangan tak mencukupi;
  4. Bargain shoppers: kalap belanja hanya karena dapat harga murah atau diskon;
  5. Codependent shoppers: membeli barang hanya supaya diterima dan dipuji orang;
  6. Bulimic shoppers: senang mengembalikan barang yang sudah dibeli, kemudian membeli lagi, persis seperti penderita bulimia, yang memuntahkan sesuatu yang dimakan kemudian makan lagi;
  7. Collector shoppers: senang membeli barang untuk melengkapi koleksi yang ada.


Sumber : Sang Ratu Belanja dan Oniomania

wibiya widget